Di balik kemudi, tersembunyi kisah perjuangan seorang sopir Ara Travel bernama Hendra Simbolon. Ia adalah potret seorang pekerja keras yang berusaha mengubah takdirnya dari seorang sopir "batangan" menjadi pemilik mobil sendiri. Perhitungan matang dan impian besar telah ia susun rapi.
Namun, takdir berkata lain. Baru dua tahun mobil impiannya menemani, musibah datang menghantam. Kecelakaan tak terhindarkan, dan Hendra harus bertanggung jawab mengganti mobil yang tertabrak. Tanpa mempedulikan luka dan kredit yang menanti, ia berjuang mencari uang pengganti.
Akhirnya, dengan berat hati, Hendra harus merelakan mobil kesayangannya yang bertuliskan "Sang Dewi" di kaca depan. Bantuan keluarga tak mungkin diharapkan, karena ia sendiri adalah tulang punggung keluarga.
Kisah Hendra adalah cermin bagi kita semua, terutama para penumpang yang seringkali menuntut pelayanan sempurna. Para sopir ini bukanlah robot tanpa perasaan. Mereka juga manusia yang merasakan lelah, kantuk, dan beban hidup yang berat.
"Tolonglah bersikap sopan. Bukan kami tidak ingin menjadikan Anda raja, tapi lelah dan kantuk yang membuat kami kurang optimal melayani Anda," pesan Hendra.
Ia juga menyayangkan sikap sebagian penumpang yang sering membatalkan keberangkatan sepihak tanpa basa-basi, yang sangat merugikan para sopir. "Sebelum memesan tiket, pastikan Anda benar-benar siap untuk berangkat," imbaunya.
Menjadi sopir bukanlah jalan pintas menuju kekayaan. Mereka hanya berharap bisa menafkahi keluarga tanpa meminta belas kasihan orang lain.
Kisah Hendra adalah renungan bagi kita semua. Mari hargai setiap tetes keringat dan pengorbanan para sopir yang telah mengantarkan kita dengan selamat sampai tujuan. Dengan bersikap sopan, pengertian, dan menghargai mereka, kita telah memberikan dukungan moral yang tak ternilai harganya.
Ara Travel

