Di jantung Bengkulu, sosok aktivis berdarah Minang, Rio Alvikram, muncul sebagai lentera harapan bagi mereka yang kerap terpinggirkan. Dengan integritas yang tak tergoyahkan, Rio tak pernah lelah menyuarakan kebenaran, baik melalui gempuran media sosial maupun turun langsung ke jalan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.
Kepeduliannya tak hanya berhenti pada isu-isu besar. Rio menunjukkan empati mendalam terhadap nasib para pedagang kaki lima. Ia kerap beradu argumen dengan Satpol PP, membela hak-hak pedagang kecil yang berjualan di atas trotoar, yang menurutnya seringkali diperlakukan tidak adil. Tak hanya itu, ia juga dengan gigih memperjuangkan nasib juru parkir yang Surat Tanda Setoran (SPT)nya dicabut tanpa alasan yang jelas, bahkan hingga menggelar hearing di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Suplihadi, teman akrab Rio yang telah lama menjadi saksi atas perjuangannya, tak ragu memuji dedikasi sahabatnya. "Saya sudah sering melihat langsung bagaimana Rio berjuang tanpa pamrih. Dia benar-benar membelah orang lemah, tidak pernah gentar menghadapi ketidakadilan, sekecil apapun itu," ujar Suplihadi. "Dia bukan tipe orang yang hanya bicara, tapi benar-benar bertindak untuk memastikan keadilan ditegakkan."
Di era yang serba cepat ini, sosok seperti Rio Alvikram yang begitu peka terhadap kesulitan masyarakat, yang berani berdiri di garis depan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, sungguh langka dan patut diapresiasi. Integritas dan dedikasinya, yang juga disaksikan oleh orang terdekatnya, menjadi bukti nyata bahwa masih ada harapan bagi keadilan sosial.
